Sabtu, 06 Februari 2010
Stasiun solo balapan
Asal-Usul
Bangunan stasiun ini dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indisch. Setasiun Solo Balapan memiliki dua emplasemen, Utara dan Selatan. Emplasemen Selatan memiliki lima sepur/jalur sedangkan emplasemen Utara memiliki tujuh sepur. Emplasemen Selatan umumnya dipakai untuk pelayanan KA penumpang, sementara Emplasemen Utara lebih diperuntukkan untuk pelayanan KA barang dan pemberangkatan kereta api Senja Utama Solo. Ke arah timur, terdapat dua jurusan, rel arah ke utara menuju ke Semarang, rel ke timur menuju Surabaya. Di sisi timur setasiun terdapat segitiga pembalik (wye) yang memungkinkan rangkaian kereta api berbalik arah seluruhnya dengan menggunakan prinsip langsir. Sisi-sisi segitiga pembalik ini juga memungkinkan kereta api dari timur (dari setasiun Solo Jebres) untuk langsung ke utara / ke Semarang tanpa lewat setasiun Solo Balapan dan sebaliknya. Di dekat segitiga pembalik ini terdapat Depo BBM Pertamina, yang rel masuknya juga dari salah satu sisi segitiga pembalik ini.
Jumat, 05 Februari 2010
Stasiun di solo
Stasiun Solojebres
Stasiun Solojebres (SJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Purwadiningratan, Jebres, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +97 m dpl ini berada di bawah manajemen PT Kereta Api Daerah Operasi 6 Yogyakarta. Stasiun Solojebres terletak ke arah timur dari Jl. Urip Sumoharjo. Di dekat stasiun ini terdapat sebuah terminal peti kemas yang kini tak lagi aktif.
Stasiun Solojebres terletak di daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Didirikan pada tahun 1884 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, Stasiun Solojebres dahulu adalah stasiun besar untuk Staatsspoorwegen.
Kereta api
Kereta api yang berhenti di Stasiun Solojebres adalah kereta api ekonomi dan komuter.
- Banyubiru: ke Sragen dan Semarang Tawang
- Prambanan Ekspres: ke Kutoarjo dan Palur
- Senja Bengawan: ke Jakarta Tanahabang
- Sri Tanjung: ke Yogya Lempuyangan dan Banyuwangi Baru
- Logawa: ke Purwokerto dan Jember
- Brantas: ke Jakarta Tanahabang dan Kediri
- Matarmaja: ke Jakarta Pasar Senen dan Malang
- Gaya Baru Malam Selatan: ke Jakarta Kota dan Surabaya Gubeng
- Pasundan: ke Bandung Kiaracondong dan Surabaya Gubeng
- Kahuripan: ke Padalarang dan Kediri
- Feeder Kedungbanteng: ke Kedungbanteng
Jebres
Pemakaman yang ada di kecamatan jebres meliputi: Astana Bibis Luhur, TPU Purwoloyo, TPU Utoroloyo, TMP Kusuma Bakti, PUCANG Sawit Pemakaman, dan Jebres Pemakaman Cina.

Kelurahan yang ada di jebres: Sudiroprajan, Gandekan, Kampung Sewu, Jagalan, PUCANG Sawit, Jebres, Mojosongo, menurut dia, Tegalharjo, Purwadiningratan, Kepatihan Wetan, dan Kepatihan Kulon.
Universitas/Perguruan tinggi
Universitas publik terbesar di Solo. yaitu Universitas Sebelas Maret yang terletak di kecamatan ini. terletak di daerah yang lebih kecil yang disebut Kentingan, yang juga terkenal dengan suaka.
The Solo Club - Pubs and Bars -
* MJ Clubby Lounge, Jl. Rajiman 118.
* Musro Bar, Hotel Quality.
* Bar Saraswati, hotel Novotel.
* Bizztro Saraswati, Resto and Cafe
* Atria Kafe.
* New Fortuna Kafe (tempat nyanyi Tia AFI).
* Melati PUB, Hotel Agas International.
* Holland Pub.
* Kafe Wiryodigdo, Hotel Sahid Raya.
* Kafe Bola.
* Kafe Gamelan, Jl. Slamet Riyadi.
* Kafe Jaya, Jl. Hasanudin.
* J&J Kafe (owner : Jujuk Srimulat).
* Kafe Solo (Owner : Sardono W Kusumo (Rektor IKJ Jakarta).
* Puri Parisuko Bar&resto, Hotel Lor In (Bintang 5).
* Kafe Dangdut BMW, Gajahan.
* Pub Utopia,Telephone:+44(0)1529 303200
8 kafe paling populer
* Golden Resto&Karaoke.
* Hailai /HIEC Karaoke.
* NAV. Karaoke, Mesen Sequare Jl. Urip Sumoharjo.
* Legend Diskotek.
* Freedom Diskotik.
* Solo Diskotik.
* Atrium Solo Baru Karaoke.
Fasilitas Akomodasi kota solo
Agas International Hotel ***
Jl. Dr. Muwardi 44
Ph:(0271)714888 Fax:(0271)720747
Asia Hotel **
Jl. Mongisidi 1
Ph:(0271)661166 Fax:(0271)646418
Baron Indah Hotel
Jl. Dr. Rajiman 392
Ph:(0271)729071 Fax:(0271)732090
De Solo (Boutique Hotel)
Jl. Dr. Sutomo 8 - 10
Ph:(0271)714887 Fax:(0271)714887
Diamond Hotel **
Jl. Slamet Riyadi 392
Ph:(0271)726232 Fax:(0271)715343
Dwi Agung Hotel *
Jl. Bandara Adi Sumarmo
Ph:(0271)782278 Fax:(0271)783291
Grand Orchid *
Jl. Gajahmada 29
Ph:(0271)731888 Fax:(0271)712233
Grand Setia Kawan ***
Jl. Ahmad Yani 290 A
Ph:(0271)718989 Fax:(0271)715243
Ibis Solo ***
Jl. Gajahmada 23
Ph:(0271)724555 Fax:(0274)724666
Indah Palace **
Jl. Veteran 284
Ph:(0271)711011 Fax:(0271)724368
Lor In *****
Jl. Adisucipto 47
Ph:(0271)724500 Fax:(0271)724400
Narita Hotel ***
Jl. Adi Sucipto
Ph:(0271)721000 Fax:(0271)722999
Novotel Hotel ****
Jl. Slamet Riyadi 272
Ph:(0271)724555 Fax:(0271)724666
Riyadi Palace Hotel ***
Jl. Slamet Riyadi 335
Ph:(0271)717181 Fax:(0271)721550
Sahid Kusuma ****
Jl. Sugiyopranoto 20
Ph:(0271)646356 Fax:(0271)644788
Sahid Raya ****
Jl. Gajahmada 58
Ph:(0271)644144 Fax:(0271)644133
Solo Inn ***
Jl. Slamet Riyadi 365
Penginapan losmen di Kota solo :
Penginapan di daerah S. Riyadi
Penginapan di daerah Colomadu , Jl. Adisucipto
Penginapan di Daerah Pajang, Makamhaji .
Penginapan di daerah kalitan .
Penginapan di daerah deket mangkunegaran .
Penginapan di daerah bolon Colomadu .
Sejarah awal dan pra-Republik
Kota Surakarta didirikan pada tahun 1745, ditandai dengan dimulai pembangunan Keraton Mataram sebagai ganti keraton di Kartasura yang hancur akibat pemberontakan orang-orang Tionghoa melawan kekuasaan Pakubuwono (PB) II yang bertakhta di Kartasura pada tahun 1742. Pemberontakan ini bahkan mengakibatkan PB II menyingkir ke Ponorogo, Jawa Timur.
Dengan bantuan VOC, pemberontakan dapat ditumpas dan Kartasura direbut kembali, tapi keraton sudah hancur dan dianggap "tercemar". Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda J.A.B. van Hohendorff untuk mencari lokasi ibu kota Kesultanan Mataram yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo. Kelak namanya berubah menjadi Surakarta. (Catatan-catatan lama menyebut bentuk antara "Salakarta"[1]). Pembangunan kraton baru ini menurut catatan menggunakan bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota dan kayunya dihanyutkan melalui sungai. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya).
Berlakunya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, dengan rajanya PB III. Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, dengan rajanya Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono (HB) I). Keraton dan kota Yogyakarta mulai dibangun pada 1755, dengan pola tata kota yang sama dengan Surakarta yang lebih dulu dibangun.
Perjanjian Salatiga 1757 memperluas wilayah kota ini, dengan diberikannya wilayah sebelah utara keraton kepada pihak Pangeran Sambernyawa (Mangkunagara I). Sejak saat itu, Sala merupakan kota dengan dua sistem administrasi, yang berlaku hingga 1945, pada masa Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Transportasi yang ada di Solo
Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini.
Angkutan darat
Terminal bus besar kota ini bernama Tirtonadi yang beroperasi 24 jam karena merupakan jalur antara yang menghubungkan angkutan bus dari Jawa Timur (terutama Surabaya dan Banyuwangi) dan Jawa Barat (Bandung). Selain Tirtonadi, terdapat pula dua terminal untuk angkutan lokal: Terminal Harjodaksino di sisi selatan kota (dulu merupakan terminal bus antarkota) dan Terminal Tipes di sisi barat kota. Selain itu, dua terminal penunjang terdapat pula di sekitar kota namun berada di luar pengelolaan Pemerintah Kota, yaitu Terminal Kartasura di barat dan Terminal Palur di timur kota.
Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan stasiun untuk pemberangkatan kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia. Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas. Di Kota Surakarta juga terdapat tiga setasiun kereta api lain. Stasiun Solo Jebres dipakai sebagai stasiun perhentian untuk kereta-kereta api kelas Ekonomi atau kereta api relasi Semarang-Madiun. Stasiun Solo Kota merupakan stasiun perhentian untuk jalur KA Purwosari-Wonogiri. Stasiun Purwosari di tepi barat kota merupakan stasiun cabang menuju Wonogiri.
Angkutan udara
Surakarta memiliki bandar udara internasional Adisumarmo (kode SOC, dulu bernama "Panasan", terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali) yang terhubung ke Jakarta,Kuala Lumpur, dan Singapura. Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung kurang lebih 50 menit. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Solo antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Indonesia Air Asia, Mandala Air, Air Asia, Silk Air, dll. Bandar udara ini juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan Boyolali Indonesia.
Angkutan kota
Angkutan umum dalam kota mencakup bus kota, angkot, taksi, becak, dan andong.
Pembagian Administratif
Surakarta dibagi menjadi lima kecamatan. Setiap kecamatan dibagi menjadi kelurahan, lalu setiap kelurahan dibagi menjadi kampung-kampung yang kurang lebih setara dengan Rukun Warga.
Kecamatan di Surakarta:
- Kecamatan Banjarsari
- Kecamatan Jebres
- Kecamatan Lawiyan (disebut juga Laweyan)
- Kecamatan Pasar Kliwon
- Kecamatan Serengan
Surakarta dan kota-kota satelitnya (Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak) adalah kawasan yang saling berintegrasi satu sama lain. Kawasan Solo Raya ini unik karena dengan luas kota Surakarta sendiri yang hanya 44 km persegi dan dikelilingi kota-kota penyangganya yang masing-masing luasnya kurang lebih setengah dari luas kota Surakarta dan berbatasan langsung membentuk satu kesatuan kawasan kota besar yang terpusat.
Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2003 adalah 552.542 jiwa terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Jumlah penduduk tahun 2003 jika dibandingkan dengan jumlah penduduk hasil sensus tahun 2000 yang sebesar 488.834 jiwa, berarti dalam 3 tahun mengalami kenaikan sebanyak 83.708 jiwa.[rujukan?] Catatan dari tahun 1880 [3] memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa.
Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan (Soloraya - Surakarta + Kartasura, Colomadu, Baki, Grogol, Palur), maka luasnya adalah 130 km². Penduduknya berjumlah 850.000 jiwa.[rujukan?]
Letak kota Solo
Kota Solo terletak sekitar 65 km timur laut Daerah Istimewa Yogyakarta dan 100 km tenggara Ibukota Jawa Tengah (Semarang). Lokasi kota ini berada di dataran rendah (hampir 100m di atas permukaan laut) yang diapit Gunung Merapi di barat dan Gunung Lawu di timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Di sebelah timur mengalir Bengawan Solo dan di bagian utara mengalir Kali Pepe yang merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai Solo.
Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik kedua gunung api yang telah disebutkan di atas. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu. Namun demikian, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.
D.I. Surakarta dan Pemberontakan Tan Malaka
Setelah mendengar pengumuman tentang kemerdekaan RI, pemimpin Mangkunegaran (Mangkunegara VIII dan Susuhunan Sala (Pakubuwana XII) mengirim kabar dukungan ke Presiden RI Soekarno dan menyatakan bahwa wilayah Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan) adalah bagian dari RI. Sebagai reaksi atas pengakuan ini, Presiden RI Soekarno menetapkan pembentukan propinsi Daerah Istimewa Surakarta (DIS).
Pada Oktober 1945, terbentuk gerakan swapraja/anti-monarki/anti-feodal di Surakarta, yang salah satu pimpinannya adalah Tan Malaka, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan gerakan ini adalah membubarkan DIS, dan menghapus Mangkunegaran dan Kasunanan. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai Pemberontakan Tan Malaka. Motif lain adalah perampasan tanah-tanah pertanian yang dikuasai kedua monarki untuk dibagi-bagi ke petani (landreform) oleh gerakan komunis.[rujukan?]
Tanggal 17 Oktober 1945, wazir (penasihat raja) Susuhunan, KRMH Sosrodiningrat diculik dan dibunuh oleh gerakan Swapraja. Hal ini diikuti oleh pencopotan bupati-bupati di wilayah Surakarta yang merupakan kerabat Mangkunegara dan Susuhunan. Bulan Maret 1946, wazir yang baru, KRMT Yudonagoro, juga diculik dan dibunuh gerakan Swapraja. Pada bulan April 1946, sembilan pejabat Kepatihan juga mengalami hal yang sama.
Karena banyaknya kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan, maka tanggal 16 Juni 1946 pemerintah RI membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan politik Mangkunegaran dan Kasunanan. Sejak saat itu keduanya kehilangan hak otonom menjadi suatu keluarga/trah biasa dan keraton/istana berubah fungsi sebagai tempat pengembangan seni dan budaya Jawa. Keputusan ini juga mengawali kota Solo di bawah satu administrasi. Selanjutnya dibentuk Karesidenan Surakarta yang mencakup wilayah-wilayah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, termasuk kota swapraja Surakarta. Tanggal 16 Juni diperingati setiap tahun sebagai hari kelahiran kota Surakarta.
Tanggal 26 Juni 1946 terjadi penculikan terhadap PM Sutan Syahrir di Surakarta oleh sebuah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka, dari Partai Komunis Indonesia. PM Syahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras. Presiden Soekarno sangat marah atas aksi pemberontakan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan pemberontak. Tanggal 1 Juli 1946, ke 14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan. Namun, pada tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14-pimpinan pemberontak.
Presiden Soekarno lalu memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak. Namun demikian Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (bahasa Belanda koppig).[2]
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden, setelah Letkol. Soeharto berhasil membujuk mereka untuk menghadap Presiden Soekarno. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal. PM Syahrir berhasil dibebaskan dan Mayjen Soedarsono serta pimpinan pemberontak dihukum penjara walaupun beberapa bulan kemudian para pemberontak diampuni oleh Presiden Soekarno dan dibebaskan dari penjara.
Pandangan Kota Solo
Solo dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "gaya Surakarta" dan "gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.
Solo juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Selain menyungguhkan pemandangan kota dan kraton Kasunanan, juga memberikan wisata-wisata alam disekitarnya antara lain Tawangmangu (berada di timur kota Solo, di Kab. Karanganyar), Kawasan wisata Selo (berada di barat kota Solo, di Kab. Boyolali). Di Solo juga terdapat sebuah museum batik yang terlengkap di Indonesia yaitu House of Danar Hadi. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Jogjakarta juga akan singgah di Solo, atau sebaliknya.